Rabu, 13 Agustus 2014

Aku dan Kamu

Kamu suamiku yang selalu aku patuhi dalam setiap perintahmu, aku korbankan semua yang seharusnya menjadi milikku. Namun demi kamu aku tidak akan pernah mendapatkan apa yang seharusnya milikku. Aku serahkan seluruh hidupku untuk melayanimu, tenaga, pikiran dan Doa yang tiada hentinya selalu kupersembahkan untuk kamu. Namun pengorbananku tiada berguna bagimu, semua pengorbananku engkau anggap hanya sebagai angin yang lewat tak sedikitpun mampir dan singgah di hati dan pikiranmu. Sungguh aku menangis tiada henti, hanya karena masalah kesalah fahaman engkau meninggalkan dalam kondisi ini, Bahkan untuk bicara denganku engkau sudah tidak peduli lagi. Kamu acuhkan aku layaknya patung yang kau simpan di kamarmu, hanya sebagai tontonan. Bahkan patung saja masing bisa di pegang untuk di bersihkan namun aku hanya kau taruh layaknya barang yang sudah bekas dan tak terpakai lagi. Apakah ini kamu sebenarnya, kamu tidak pernah mau mendengarkan apa yang aku katakan, karena hatimu telah di selimuti rasa benci yang sangat kepadaku, hanya karena masalah kecil engkau membesarkannya. Jika situasi ini kamu yang mengalami bagaimana kamu akan bersikap? Bagaimana kamu akan membuatku untuk mau menyentuhmu lagi, dan mencium tanganmu lagi. Sungguh pengorbananku selama ini tiada berarti sedikitpun kepadamu. Aku sebagai istri hanya bisa berdoa untukmu supaya engkau mendapatkan selalu yang terbaik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar